Minggu, 28 Juni 2015

Prolog Cerita Baru

"Kan sekarang udah nggak terlalu sibuk uas, magang juga udah keurus, nulis lagi dong", he said.
Kalau saja semua orang tau, kalimat itu sudah sering terdengar sendiri atas nama kerinduan untuk mengunggah link tulisan baru di blog ini berbulan-bulan lamanya. Lalu aku berpikir lama sekali, apa yang sekiranya membuatku takut untuk membiarkan orang-orang bahkan diriku sendiri untuk membaca tulisanku lagi, kamu harus merasakan, ketika kamu bisa melihat kenanganmu tersusun rapi dan dapat kamu lihat kapanpun ketika kamu membukanya, keputusanku memang, merapikan semua kenangan, tidak menghapusnya dengan alasan pembelajaran. Tetapi suatu saat membuatmu amat sangat ketakutan, melihat hal-hal yang kamu tulis tidak dapat kamu pertahankan untuk dirasakan lagi, surat-surat cinta yang tak pernah sampai kepada orang-orang yang pergi, atau perasaanmu yang pergi, pada akhirnya.

Lalu dirimu sendiri mulai menanyakan hal yang sama berulang-ulang dikepala, bagaimana jika, bagaimana jika kenangan yang akan kamu tulis akan berakhir sama seperti ratusan cerita dan surat cinta tahun-tahun kemarin? bukankah sangat menakutkan jika dirimu mulai bertanya "bagaimana jika?" Bagaimana jika adalah ungkapan dan ketakutan akan penyesalan yang selama ini membuat kerinduan akan menulis kalah dan menyerah begitu saja. Bagaimana jika dahulu aku tidak memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang sudah bertahun-tahun itu, bagaimana jika aku sudah tau dari lama jika seseorang itu merasakan hal yang sama, dahulu, bagaimana jika aku tidak usah saja bertemu seseorang yang membuatku merasakan apa yang oleh penulis novel-novel picisan sebagai konflik tokohnya, jarak dan perselingkuhan, semua itu bertahun-tahun berputar dikepala, memaksa diri sendiri untuk memohon kepada Dzat yang Maha Mulia untuk melalukan hal yang tak mungkin, memperbudak waktu.

Mungkin pertanyaan itu begitu memekakkan telinga, hingga pada saat aku memeluk diriku sendiri waktu itu, aku tak mendengar, Tuhan juga memelukku dan berkata, tunggu.....

Tunggu,

Tunggu sampai Dia memutuskan kita untuk bertemu.
Mungkin kita pernah tidak sengaja memasuki lift yang sama, saling diam sambil menunggu sampai lantai tujuan
Mungkin kita pernah tidak sengaja memarkir sepeda kita bersebalahan di parkiran fakultas,
Mungkin aku pernah berkata "permisi" saat memintamu memberikan jalan untuk lewat.
Mungkin sudah berkali-kali pertemuan tak sengaja yang kita acuhkan karena kita tidak saling kenal,
ralat, belum saatnya saling mengenal.

Sampai
berminggu-minggu hingga tiga tahun cukup untuk membuat kita semakin dekat untuk bertemu
aku yakin Tuhan selalu mempertemukan orang-orang dalam perjalanan, jadi yang bisa aku doakan sekarang adalah, semoga kita satu pemberhentian.

Bersama kamu bukan berarti aku tidak takut lagi,
takut salah, takut gagal, takut salah satu atau kita saling menyerah, tetapi yang aku rasakan adalah aku bersama orang yang saling menjaga karena sama-sama takut, takut kehilangan. Menyenangkan dan menenangkan rasanya bersama orang yang sama-sama berusaha untuk saling mempertahankan, melegakan ketika tahu bahwa kamu tidak sedang berjuang sendirian.

Setiap orang yang bertanya, (bahkan kamu sendiri pun menanyakan) kenapa harus kamu,
aku harus berpikir lama, bukan karena aku tidak memiliki alasan, tetapi karena pada akhirnya pertanyaan mengapa kamu harus aku jawab dengan pertanyaan "lalu kenapa?"
Aku tentu tidak akan menyebutkan setiap detail kecil yang aku rasakan kenapa aku tersenyum saat sama kamu, banyak sekali.
Aku ingin mengatakan, aku dapat semuanya dari kamu, kakak, teman, partner diskusi, sahabat, dan pacar, Kamu menyenangkan dan menenangkan seperti yang aku mau.
Tetapi bagiku, alasan itu tetap saja kurang.
jadi mungkin jawaban yang  paling tepat
dari pertanyaan kenapa harus kamu,
adalah karena Tuhan sudah membuatku berhenti menunggu,
karena Tuhan menjawab pertanyaan "bagaimana jika"ku di masa lalu,
yaitu karena disetiap pintu yang salah dan harus aku lalui, aku pada akhirnya akan bertemu kamu
semoga aku adalah jalan pulangmu dan kamu adalah rumah yang sebenernya, pada akhirnya.
Jadi detik ini, aku mengesampingkan semua ketakutanku
dan aku berhenti menunggu.
I was enchanted to meet you

Mungkin kamu tidak akan selamanya menenangkan dan menyenangkan,
kamu boleh jadi lebih menyebalkan, asal sama aku terus ya :)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar